IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM - UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Rabu, 01 Juni 2016

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM


Oleh : Puput 
( KKI-A 2014 )

          
 Sahabat, hidup sudah sepatutnya berada dalam aturan yang mampu memberikan kanyamanan, dan tentunya berada dibawah naungan kepemimpinan.  Kepemimpinan yang layak menjadi benar sebuah kebenaran dan salah sebuah kesalahan hingga mendatangkan keadilan. Dan inilah kriteria kepemimpinan Islam.
            Kepemimpinan Islam berada di tangan-tangan pemimpin yang adil, dan yang menjadi ciri khas utama yakni setiap kebijakan mengambil dasar al-Qur’an dan As-Sunnah. Keberadaan kepemimpinan Islam senantiasa berada pada jihad dan ijtihad, sehingga mampu membawa peradaban bagi ummat dengan penuh kedamaian dan ketentraman.
            Jihad adalah mengerahkan segala upaya dan potensi dalam perjuangan meraih tujuan besar, dan perjuangan itu berada pada jalan-jalan Allah untuk membela agama Allah dari tangan-tangan yang ingin melenyapkannya. Baik dalam bentuk pertumpahan darah atau membangkitkan generasi ummat Islam kepada kejayaan.
            Ijitihad dalam perkara kepemimpinan Islam ialah seseorang yang memegang amanat untuk menjadi pemimpin ummat Islam wajib memiliki kemampuan menjawab berbagai problematika dalam kehidupan, memberikan kepastian hukum terhadap persoalan yang ada, serta memiliki pengetahuan tentang spiritualitas, aspek kejiwaan dan hikmat, dan mampu merumuskan kebijakan dengan keadilan yang berlaku untuk seluruh ummatnya.    
  Pada zaman Rasulullah kepemimipinan islam berada pada tingkatan kriteria pemimpin yang memiliki kepribadian di tingkat keimanan yang kokoh, aqidah yang kuat, moral yang terhormat, budi pekerti yang luhur, jiwa yang suci, perjuangan yang tak henti, kesempurnaan dalam keadilan dan kemanusiaan.
  Sahabat, sosok pemimpin yang memiliki kriteria pada zaman Rasulullah sudah menjadi kebenaran yang langka di dunia saat ini, hanya dari segelintir pemimpin saja. Adapun kebijakan yang sesuai syariat pun sudah menjadi perkara yang sulit untuk di tegakkan. Namun, percayalah akan kehadiran para pahlawan yang senantiasa mengembalikan kejayaan Islam, hingga Islam kembali memenuhi sudut-sudut dunia, hingga kepemimpinan Islam dirasakan kembali.Allahu Akbar.
            

Sabtu, 28 Mei 2016

Membangun Integrasi-Interkoneksi Keilmuan Islam

Oleh : Immawan Muamamar Rafsanjani
(Kader IMM FAI UMY)


            Dewasa ini dalam arus globalisasi yang semakin deras dan tidak bisa dibendung semakin banyak hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah kita temui. Dari berbagai hal-hal baru tersebut timbul berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Banyak disiplin ilmu tertentu yang mencoba menyelesaikan berbagai permasalahn-permasalahan tersebut. Sejatinya permasalahan tersebut menjadi sebuah tantangan yang harus dicarikan jawabannya. Namun, disiplin-disiplin ilmu tertentu yang kemudian mencoba menjawab berbagai tantangan tersebut terksesan eksklusif dengan dirinya atau bahkan bersikap apiriori dengan disiplin ilmu lainnya. Seakan-akan hanya dengan teori-teorinya lah permasalahan yang dihadapi saat ini dapat terpecahkan. Hal inilah yang kemudian membangun budaya eksklusifitas dalam suatu disiplin ilmu tertentu. Sehingga terjadilah pendikotomian berbagai disiplin ilmu. Idealnya berbagai disiplin ilmu tersebut saling bahu-membahu dalam menjawab berbagai permasalahan yang kita hadapi di era kontemporer ini. Idealnya tidak ada pertentangan antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Justru ada integrasi dan interkoneksi antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Kalau kita lihat antara Islamic knowledge, Islamic thought, dan Islamic studies para penggemar dan pencinta studi keislaman tidak dapat melihat ketiga hal tersebut secara jelas dan gamblang sehingga menjadi suatu pandangan keagamaan Islam yang utuh.(Amin Abdullah:2008) Sehingga tidak ada kemampuan untuk dapat mempertemukan antara ketiga hal tersebut sehingga menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh dan berjalan berbarengan.
            Menurut Ian G. Barbour setidaknya terdapat empat pola hubungan antara agama, ilmu pengetahuan. Yaitu, konflik, antara agama dengan ilmu pengetahuan saling bertentangan. Independensi, antara agama dengan ilmu pengetahuan saling berdiri sendiri. Dialogis, antara agama dengan ilmu pengetahuan saling berkomunikasi. Integrasi, antara agama dengan ilmu pengetahuan saling menyatu dan berkaitan. Dalam hubungan konflik, antara agama dengan ilmu pengetahuan hanya mengakui kebenaran dirinya masing-masing dan menafikan yang lain. Dalam hubungan independensi antara agama dan ilmu pengetahuan saling mengakui kebenaran dari agama atau ilmu pengetahuan, namun tidak terjadi titik temu antara agama dan ilmu pengetahuan tersebut. Dalam hubungan dialogis antara agama dan ilmu pengetahuan memiliki kesamaan yang kemudian dapat didialogkan oleh para agamawan dan ilmuan yang memiliki kemungkinan untuk saling mendukung. Adapun pola hubungan keempat yaitu integrasi, dalam pola hubungan ini terjadi penggabungan antara agama dengan ilmu pengetahuan yang kemudian saling mengisi, terkait dan menguatkan satu sama lain. (Ian Barbour:2002)
Dalam sejarah ilmu pengetahuan Barat, sempat terjadi konflik antara gereja(agama) dengan ilmu pengetahuan. Dimana adanya dogma dari gereja yang menutup nalar berfikir yang kemudian menyebabkan kemunduran ilmu pengetahuan di dunia Barat. Setelah ilmu pengetahuan melepaskan diri dari kungkungan gereja, justru terjadi independensi antara gereja dan ilmu pengetahuan yang kemudian menyebabkan timbulnya sekularisme. Menurut Buya Hamka agama yang tulen tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, sebaliknya ilmu pengetahuan yang tulen tidak akan bertentangan dengan agama.(Buya Hamka:1983) Seharusnya antara agama, ilmu pengetahuan dan budaya membangun sebuah dialog satu sama lain. Sehingga dari ketiga hal ini dapat berjalan berbarengan dan tidak terjadi konflik satu sama lain yang kemudian dapat membangun integrasi dan interkoneksi.
            Dalam konteks Islam, khazanah pemikiran keilmuan dalam Islam telah memberikan dua macam metode analisis yaitu dengan ushul fiqh yang bersumber dari teks-teks Al-Qur’an dan teks-teks Hadist. Kemudian dengan metode falsafah yang menggunakan akal dan sains.(Amin Abdullah:2013) Namun, umat muslim masih cendrung menggunakan salah satu saja dibandingkan memadukan dua metode tersebut dalam mengeksplorasi ayat-ayat Al-Qur’an. Seharunya terjadi integrasi antara pola berfikir dengan menggunakan metode ushul fiqh dan falsafah yang memadukan antara agama dan sains. Dengan adanya perpaduan antara agama dan sains ini maka akan membangun integrasi dan interkoneksi paradigma keilmuan yang dewasa ini terdikotomi dan cendrung eksklusif dari setiap disiplin ilmu. Adapun antara disiplin ilmu yang terkait dengan keagamaan dan disiplin ilmu non-keagamaan, Amin Abdullah menggambarkan hubungan ilmu yang bersifat dialogis dan integratif yaitu, Semipermeable, Intersubjective Testability, dan Creative Imagination.(Amin Abdullah:2013)
Pertama, Semipermeable. Dalam konsep ini antara agama dan ilmu tidaklah dibatasi oleh tembok tebal yang tidak memungkinkan untuk melakukan komunikasi. Secara metaforis menggambarkannya seperti “jaring laba-laba keilmuan”, dimana antar  berbagai disiplin ilmu tersebut saling berhubungan dan berinteraksi secara aktif-dinamis. (Amin Abdullah:2013) Artinya, antara berbagai disiplin ilmu tersebut bersifat integratif-interkonektif yang memungkinkan terjadinya dialog, komunikasi dan diskusi antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya tanpa mengganggu identitas dan eksistensinya masing-masing. Tidak hanya mampu melakukan dialog internal, namun juga mampu melakukan dialog eksternal dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya yang kemudian mampu untuk membuka diri terhadap masukan-masukan dan kritik oleh disiplin ilmu yang lain. Karena sejatinya tidak ada pagar pembatas atau dikotomi keilmuan yang ketat. Batas-batas tersebut masih ada dan jelas, namun seperti yang dilukiskan Amin Abdullah seperti “jaring laba-laba keilmuan” tadi. Dalam jaring laba-laba terdapat rongga-rongga kecil yang dapat dilalui oleh angin, sama halnya dengan disiplin ilmu yang mampu dirembesi dan dimasuki oleh disiplin ilmu lain.
Kedua, Intersubjective Testability. Intersubjektif disini adalah mental keilmuan yang mampu dan dapat mendialogkan berbagai disiplin dengan cerdas antara dunia objektif dan dunia subjektif dalam diri seorang ilmuan dalam menghadapi permasalahan yang semakin kompleks pada era kontemporer ini. Baik dalam dunia keagamaan, keilmuan maupun budaya. Intersubjective Testability tidak hanya mengacu pada agama atau suatu disiplin ilmu tertentu. Banyak sekali permasalahan yang kita hadapi saat ini yang terlalu naif apabila hanya diselesaikan dengan suatu disiplin ilmu tertentu saja. Kaloborasi antara berbagai disiplin ilmu serta kritik dan masukan dari satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya serta lina disiplin ilmu sangat diperlukan untuk menyelesaikan kompleksitas kehidupan saat ini. (Amin Abdullah:2013)
Ketiga, Creative Imagination. Meskipun logika berfikir deduktif dan induktif telah dapat menggambarkan secara tepat bagian tertentu dari cara kerja ilmu pengetahuan, namun sayangnya dalam uraian tersebut meninggalkan peran imajinasi kreatif dari ilmuan tersebut dalam kerja ilmu pengetahuan. Logika mampu menguji teori, namun tidak mampu menciptakan teori. Tidak ada resep yang jitu untuk membuat temuan-temuan yang orisinil. (Amin Abdullah:2013) Maka, yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian melepaskan sekatan-sekatan dari setiap disiplin ilmu. Dalam ilmu agama misalnya, aqidah, tauhid, hadist, dan sebagainya. Dibutuhkan keberanian untuk  mengaitkan, mendialogkan dari disiplin-disiplin ilmu tersebut dengan disiplin ilmu yang lainnya yang kemudian dapat di elaborasikan dalam menghadapi kompleksitas kehidupan saat ini. Apabila hanya terisolasi dalam disiplin ilmu tersebut saja, maka ilmu-ilmu agama tersebat akan kehilangan relevansinya dengan setiap perkembangan zaman yang semakin pesat saat ini.
Dengan demikian, pada era kontemporer dimana permasalahan yang dihadapkan kepada kita semakin kompleks tersebut dibutuhkan integrasi-interkoneksi disiplin ilmu yang kemudian mampu memecah ekslusifitas (dikotomi) dalam suatu disiplin ilmu tertentu saja. Karena sangat banyak dan terlalu naif apabila kita berpendapat berbagai permasalahan yang kita hadapi saat ini hanya dapat dipecahkan dengan satu disiplin ilmu saja. Maka, penting dari berbagai disiplin ilmu yang ada tersebut kemudian mampu membuka diri dengan disiplin ilmu yang lainnya untuk menerima kritik, saran serta masukan dari disiplin ilmu lainnya. Yang kemudian hal tersebut mampu memperkaya khazanah keilmuan yang ada untuk kemudian berjalan bersama, bahu-membahu untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada. Hal itu tentunya tidak dapat dilakukan begitu saja. Diperlukan dialog, komunikasi dan diskusi lintas disiplin. Tidak hanya disiplin ilmu keagamaan, namun juga disiplin ilmu umum. Peran ilmuan pun juga dibutuhkan disini, karena dibutuhkan ilmuan cerdas yang mampu dan berani untuk mendialogkan berbagai disiplin ilmu yang ada tersebut sehingga mampu membangun integrasi dan interkoneksi keilmuan.

Selasa, 17 Mei 2016

Karakter Pemimpin Islami


(Oleh: Agtusha A. P.)

            Kawan, apa hakekat peran manusia di dunia ini? Pada hakekatya, setiap dari kita adalah khalifah,[1] baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain dan lingkungan sekitar. Hal tersebut menujukkan bahwa manusia memiliki berbagai macam tanggung jawab. Tanggung jawab tersebut dilaksanakan pada masa kepemimpinannya, yaitu selama manusia tersebut hidup. Tanggung jawab manusia sebagai khalifah bermacam-macam sesuai perannya di dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat. Di mana kepemimpinan kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita perlu menerapkan kepemimpinan sesuai dengan hukum Allah. Sebagai mana sabda Rasulullah yang artinya, “apabila kamu melihat orang-orang yang menggunakan hukum-hukum yang tidak nyata, maka anggaplah mereka itu orang-orang yang diperingati oleh Allah, supaya jangan jadi pengikut mereka.” (H.R Muslim)
            Nyatanya, dewasa ini banyak kita temui peristiwa yang sangat memilukan tentang pemimpin. Banyak dari petinggi-petinggi menyalahgunakan statusnya sebagai pemimpin. Terjadi korupsi di mana-mana, banyaknya pemimpin yang tidak adil, munculnya peraturan-peraturan yang justru menjauh dari nilai Islam. Sampai yang paling memilukan adalah adanya ‘permainan’ mereka dengan perempuan-perempuan yang bukan mahramnya. Hal ini membuat masyarakat yang berada di bawah kepemimpinan oknum tersebut merasa jera untuk memilih mereka, namun juga masyarakat tidak bisa bertindak lebih. Semua ketimpangan tersebut tak lain timbul karena lemahnya iman mereka. Apabila iman mereka lemah, shalat mereka juga akan terbengkalai, dan apabila mereka memainkan perihal shalat, maka rusak pulalah urusan yang lain. Mereka, yang dikatakan sebagai pemimpin itu, tidak akan bisa menghindari hal yang keji dan mungkar karena sesungguhnya shalat itu mencegah dari hal-hal semacam itu.[2]
        Kepemimpinan yang Islami tidak serta merta terbentuk dari pemimpin yang tingkat keimanannya sangat minim. Kepemimpinan yang baik sesuai hukum Allah terbentuk dari para pemimpin yang memiliki keimanan yang baik pula. Dr. Hisham Yahya Altalib (1991 : 55), mengatakan ada beberapa ciri penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam yaitu:
Setia kepada Allah. Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat dengan kesetiaan kepada Allah;
- Tujuan Islam secara menyeluruh. Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup kepentingan Islam yang lebih luas;
- Berpegang pada syariat dan akhlak Islam. Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang teguh pada perintah syariah. Dalam mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berurusan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang tak sepaham;
- Pengemban amanat. Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah Swt., yang disertai oleh tanggung jawab yang besar.Al-Quran memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap yang baik kepada pengikut atau bawahannya. Dalam Al-Quran Allah Swt berfirman, “(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. al-Hajj [22]:41).
Kepemimpinan Islam bukanlah kepemimpinan yang tirani dan tanpa koordinasi. Kepemimpinan Islam yaitu dilakukan dengan prinsip musyawarah[3], dilaksanakan dengan menegakkan keadilan[4] dan amar ma’ruf nahi munkar[5]. Kepemimpinan Islam sangat dikaitkan erat dengan musyawarah karena di dalam Q.S. Asy-Syura : 37-38 musyawarah sebagai sifat ketiga bagi masyarakat Islam dituturkan sesudah iman dan shalat[6]. Itu berarti musyawarah memiliki kedudukan penting di dalam sebuah kepemimpinan. Sebagai hamba-Nya sekaligus sebagai khalifah di bumi, manusia diperintahkan oleh Allah untuk bersikap adil dalam segala aspek kehidupan, baik terhadap diri dan keluarganya sendiri, maupun kepada orang lain. Bahkan kepada musuh sekalipun setiap mukmin harus dapat berlaku adil. Sedangkan pada kepemimpinan yang amar ma’ruf nahi munkar adalah kepemimpinan yang didalamnya terdapat pemimpin yang betul-betul mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar. Bila tugas tersebut diabaikan atau tidak dilaksanakan, umat Islam bisa menjadi umat yang terburuk dan tidak akan diperhitungkan oleh umat yang lain.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan sangat erat kaitannya dengan pemimpin. Pemimpin Islam akan melahirkan pula sebuah kepemimpinan Islam. Sesuai firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah : 55, bahwa sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yaitu mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).  Kepemimpinan Islam seperti yang telah saya sebutkan di atas akan teralisasikan apabila pemimpinnya beriman kepada Allah SWT., mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan selalu tunduk patuh kepada Allah SWT..




[1] Q.S. Al-Baqarah : 30
[2] Q.S. Al-‘Ankabut : 45
[3]Q.S. Asy-Syura : 37-38
[4] Q.S. An-Nahl : 90
[5] Q.S. Ali-Imran : 110
[6] Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: LPPI, 1999), hlm. 230

Senin, 16 Mei 2016

AR Fachruddin dan Keteladanannya

Oleh : Immawan Hawari (ketua HIMAPAI)

KH Abdurrazzaq Fachruddin lahir di Yogyakarta tanggal 14 Febuari 1916. KH Fachruddin ialah nama ayahnya, seorang penghulu di Pakualaman. Ia memberi nama anaknya ini Abdurrazzaq (AR). Selanjutnya, nama ayahnya, sebagai penghormatan, disebut di belakang namanya. Sehingga namanya lengkap menjadi Abdurrazzaq Fachruddin. Namun, nama ayahnya itu, bukanlah KH Fachruddin, nama seorang pahlawan nasional yang pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Jadi, hanya kesamaan pada nama.
KH AR Fachruddin, yang akrab disapa Pak Ar, ketika masa kecil sekolah di SD Muhammadiyah Bausasran kemudian pindah ke SD Muhammadiyah Prenggan KotaGede. Setelah itu, melanjutkan ke Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah hanya beberapa tahun. Karena orangtua kembali ke Bleberan, Kelurahan Banaran, Kecamatan Galur, Kulon Progo. Ia lalu dididik mengaji langsung di kampung oleh ayahnya yang semasa mudanya nyantri di Pondok Tremas, Pacitan. Selain itu, ia dapat melanjutkan sekolah lagi di Madrasah Darul Ulum, Galur sampai tamat. Kemudian ia mengikuti Tabligh School Muhammadiyah.
Berbicara mengenai pak AR, banyak sekali kisah-kisah yang dapat kita jadikan pelajaran dengan baik. Salah satu kisah mengenai beliau adalah, pernah suatu ketika beliau diminta mengisi sebuah kajian dan mendapatkan amplop. Biasanya isi amplop tersebut habis diberikan kepada para karyawan kantor PP Muhammadiyah yang gajinya masih sangat kecil. Kisah ini tentu memberikan bukti ke-zuhud-an sifat yang dimiliki oleh pak AR.
Tidak hanya itu, suatu kali beliau didampingi oleh H. Ahmad Dimyati, seorang tokoh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, menghadiri suatu acara Muhammadiyah di daerah Jawa Tengah. Oleh panitia tempat tidur yang diberikan hanya sebatas kasur di atas lantai tanpa ada ranjang. Ketika pak Dimyati bermaksud mencari panitianya untuk mengadukan masalah ini, pak AR dengan santai mengatakan, “Sudahlah, dengan begini saya malah enak, tidak mungkin jatuh dari tempat tidur”
Dua kisah ini menggambarkan dua sifat mulia yang dimiliki oleh Pak AR selama masa hidup dan baktinya. Dari kisah ini menggambarkan bagaimana pak AR memiliki sifat yang sederhana, peduli dengan manusia yang lain, dan kezuhudan yang dimilikinya. Tentu dari kisah ini semoga dapat kita contoh keteladanan yang diberikan oleh Pak AR.
Dalam memimpin sebuah organiasai, Pak AR  bukan pemimpin yang pemarah dan bersikap kasar. Ia  ramah dan sangat terbuka sehingga mudah bergaul dan bekerjasama. Selain itu,  memandang semua sama dan mudah ditemui siapa pun. Ceramah, pidato, dan pengajiannya menggunakan kata-kata dan kalimat yang mudah  diterima.  Penyampaiannya menyegarkan, menyejukkan, menenteramkan hati.  Ia salah satu pemimpin yang disegani dan dihormati.  Presiden Suharto dan para pejabat berpangkat menghormatinya. Apalagi  masyarakat bawah  mengenalnya dan mencintainya. Prestasi sosial yang tinggi semacam itu membuktikan bahwa ia pemimpin yang berwibawa.

Senin, 04 April 2016

PEMIMPIN NON MUSLIM

Oleh :  Yenni Sundari Lubis


Pemimpin merupakan orang yang membantu diri sendiri dan orang lain melakukan hal yang benar (do right things). Setiap pemimpin haruslah menjadi panutan yang baik untuk masyarakatnya. Pemimpin juga harus peduli dengan masyarakatnya dan berharap dengan adanya pemimpin masyarakat lebih aman nyaman dan tentram. 

Lalu bagaimana dengan seorang pemimpin non muslim?

Kita sebagai umat muslim sangat penting untuk mengetahui tentang bagaimana hukum memilih seorang pemimpin non muslim. Hukumnya seorang muslim memilih pemimpin yang non muslim itu hukumnya haram. 
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Q.S An-nisa ayat 144 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).”

Surah tersebut sudah sangat jelas untuk menjelaskan bahwasannya seorang muslim tidak boleh memilih seorang pemimpin non muslim. Maka dari itu tetaplah pilih seorang muslim menjadi pemimpin bagaimana pun dia, dia tetap saudara kita sesama muslim dan diharapkan menjadi yang terbaik.

Kamis, 03 Maret 2016

ATMOSFER KITA

Rosmania Robochatun 15 Mei 2015

Terik matahari yang tak mau mengalah memberi sengatan nyeri pada kulit, keringat deras mengalir keluar dari pori-pori kulit di tengah siang ini. Duduk aku di warung makan di pinggir jalan ring road dengan ketidaknyamanan karena panas yang semakin menjadi. Lewat seorang bapak-bapak menuntun sepedanya yang penuh dengan karung-karung terisi rongsokan. Hanya topi yang ia pakai untuk melindungi kepala, sepasang sendal sederhana untuk melindungi kakinya dari panas aspal pun tak ia punyai. Dengan rasa iba yang aku punya membuat aku merasa harus mendekati bapak pekerja keras ini. Alhasil, ia memang mencari nafkah untuk hidup anak dan istrinya dengan mencari rongsokan.


ATMOSFER KITA

Dalam menu kali ini mungkin akan sedikit saya sajikan tentang mahasiswa pergerakan tapi sedikit melakukan gerakan. Fahd Djibran dalam bukunya “Insomnia Amnesia” menyebutkan sejumlah nama pergerakan mapan seperti IRM, PMII, IMM, KAMMI, HMI, GMNI dan masih banyak lagi pergerakan mapan lain. Sejauh yang saya tahu, Muhammadiyah memiliki beberapa pergerakan mapan demi untuk mencapai tujuan terhadap misi dakwahnya. Tak jauh mencari salah satu pergerakan mapan itu dari kita, misalnya saja IMM kita. Tidak banyak juga yang saya tahu tentang sel-sel yang terdapat di dalam ikatan juang kita ini. Yang sedikit saya tahu hanyalah atmosfer dalam setiap partikel-partikel yang berkombinasi di dalamnya. Sebuah ikatan juang ini sebut saja atmosfer kita.
Pada DAD 2013 lalu, saya masih ingat adanya materi tentang sejarah IMM, yang kemudian pembahasan meluas pada musuh-musuh kita yang sebenarnya dalam ikatan juang ini yaitu kebodohan dan kemiskinan. Bentuk implementasi dari ikatan juang kita terhadap menangani masalah kebodohan adalah dengan adanya diskusi-diskusi yang dengan banyak inovasi dan refleksi. Pada kenyataanya juga lah diskusi-diskusi sebagai salah satu cara memerangi kebodohan itu telah terealisasi secara tersurat.
Namun terlepas dari hal itu mahasiswa seperti terlupa akan musuh yang senantiasa terus menggerogoti atmosfer kesejahteraan masyarakat yaitu kemiskinan. Apakah wujud tak lupa nya  kita adalah dengan mengabdikan rasa sosial mahasiswa pergerakan mapan melalui bakti– bakti sosial yang hanya diadakan setiap tiga atau empat kali dalam satu tahun? Atau malah kurang dari itu frekuensi wujud bakti kita pada masyarakat? Mungkin kita yang masih bergelar mahasiswa ini masih lupa apa dan harus bagaimana membawa pulang kembali kesejahteraan masyarakat ke dalam ruang-ruang yang nyata dan bisa diraba dampaknya. Mahasiswa masih tertalu banyak mendominasi ruang-ruang diskusi yang terefleksi di ruang-ruang nyata namun sama sekali tidak habitus.
Mahasiswa pergerakan yang masih merasa nyaman.  Masih merasa nyaman dan tak merasakan akan ada bahaya yang hampir-hampir menerjang. Itulah kita dalam posisi yang semakin membuat terlena pada arus sungai apatis yang deras alirannya. Seandainya saja mahasiswa hidup dalam ketertindasan, tidak akan ada lagi mahasiswa yang hanya pandai berdebat dan  berwacana tanpa memiliki bentuk karya yang jelas dan bermanfaat (misalnya tulisan, menyumbangkan waktu dan tenaganya dan lain-lain).  Posisi nyaman ini yang seharusnya bisa membuat mahasiswa nyaman dalam bergerak memerangi kebodohan dan kemiskinan, malah justru menjadi angin yang sepoi-sepoi seperti sedang mengantarkan kita tertidur dengan nyenyak dan bermimpi indah berjalan ditepi pantai yang landai.
Musuh utama kita kian lama kian berdendang dan bersenandung riang tanpa adanya perlawanan dari kita yang mana menyandang mahasiswa pergerakan yang hanya selesai pada bangku diskusi dan perdebatan kritis mengenai persoalan yang dianggap lebih penting. Dan memunculkan sebuah pertanyaan. Pernahkah kita benar-benar memikirkan mereka yang membusung dan lapar? Dan merelakan darah juang kita menetes ke tanah air tempat kita berbakti? Apakah itu hanya sebatas syair nyanyian semata? Musuh yang tengah menjelma semakin parah pun nampaknya tak cukup menjadi cambuk bagi kita. Lalu cambuk seperti apa yang kiranya serangkai dengan niat perjuangan kita?
Mungkin ketertekanan bisa menjadi cambuk bagi kita dalam berjuang melawan kemiskinan dan kebodohan sebagai musuh kita. Atau bahkan bisa sebagai bahan bakar mengobarkan semangat juang agar darah juang tak hanya sekedar nyanyian pengantar tidur panjang. Sekali lagi, ketertekanan. Iya ketertekanan. Mungkin tekanan yang ada bukanlah seperti gejolak di Palestina atau di Yaman. Tapi analisis awam sudah mendapatkan nilai dominan. Bahwa ketika hidup dalam ketertindasan itu biasan membuat kita semakin kuat dalam bertekad. Sebut saja pasukan HAMAS melawan Israel, mereka tidak akan ditakuti oleh tentara Israel jika mereka tidak lebih kuat dari tentara Israel. Hipotesisinya adalah kekuatan mereka ada karena adanya dorongan kuat pula melawan mereka yang menindas dengan tekanan-tekanan yang luar biasa.
Tapi kita tak perlu menjadi seperti pasukan HAMAS. Hanya saja mari sama-sama kita pahami, bahwa posisi nyaman kita tak selamanya membawa kita pada keselamatan dan hakikat kebahagiaan atas amanah yang kita punya, tetapi posisi sebagai pergerakan mapan ini bisa jadi bumerang bagi kita karena merasa nyaman sampai tak sadar ada kantung-kantung amanah di atas pundak kita. Tersenyumlah kawan jika sedikit kita mampu  melawan musuh kita seandainya kita dalam ketertekanan pasti kita bisa berbuat lebih dalam perjuangan ini. Tak hanya bersandar pada ruang diskusi yang terlalu matang karena terlalu sering dilakukan. Tak hanya berwacana dan bernyanyi lagu darah juang.tapi lakukan yang paling utama dari improvisasi yang biasa terjadi diantara atmosfer kita.

Kamis, 25 Februari 2016

UNTUK KITA RENUNGKAN WAHAI PEMUDA MUSLIM


Oleh : Bidang Dakwah IMM FAI


Amal Islami bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan di saat kamu memiliki waktu luang semata, dan bisa kamu tinggalkan saat sibuk. Tidak, amal islami terlalu agung dan teramat mulia jika diperlakukan seperti itu. Perkara bergabung kepada agama ini tentu saja jauh lebih serius daripada yang seperti itu. Islam tidak seperti klub ilmiah, klub motor, klub pecinta alam atau klub-klub lainnya yang bisa ditinggalkan kapanpun kamu mau dan ketika membutuhkannya baru kamu kembali. Atau yang cukup dikerjakan hanya ketika kamu belum mendapatkan pekerjaan lalu ketika telat mendapatkan pekerjaan, lantas kamu tinggalkan amal-amal islami itu.

Perkara amal islami sama dengan perkara ‘ubudiyah kepada Allah yang sebenarnya. Oleh karena itu, seorang muslim hanya boleh melepaskan diri dari amal islami seiring dengan perginya dia dari kehidupan ini. Bukankah Allah telah berfirman:
Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai kematian datang kepadamu!” ( Al-Hijr: 11 )

Al-Qur’an tidak mengatakan, “Beribadahlah kepada Rabbmu sampai kamu keluar dari sekolahan, pesantren atau perguruan tinggi atau saat menjadi kamu telah menjadi pegawai atau bos atau sampai kamu menikah dan seterusnya”. Tapi Al-Qur’an berkata: beribadahlah sampai malaikat maut mengambil nyawa ini dari jasad kita. Pertanyaan yang tentu saja harus timbul dalam diri kita masing-masing adalah bagaimanakah keadaan kita hari ini? Banyak kita saksikan hari ini para pemuda muslim yang meninggalkan amal islami dan beralih menuju amal-amal yang sia-sia.

Hari ini kita melihat banyak pemuda muslim yang tersebar dipenjuru dunia dan kita juga dapati ratusan pemuda muslim di satu kota! Meski jumlah mereka banyak, namun jika kita mencoba hitung jumlah pemuda yang aktif, yang bersungguh-sungguh, dan penuh semangat, sehingga pantas kita sebut sebagai aktivis islam, niscaya kita akan mendapati jumlah mereka tidak mencapai ratusan orang. Lalu kemana kerja, usaha, dan sumbangsih ribuan pemuda muslim hari ini? Kemanakah dakwah, hisbah, dan jihad mereka?

Kebanyakan dari kita, para pemuda muslim hari ini hanya mengambil peran sebagai penonton saja, tidak lebih. Kita merasa cukup setelah berislam, setelah itu kita berhenti pada titik ini, tidak ingin meningkatkan, tidak berhasrat untuk meningkatkan ketitik berikutnya, bahkan tidak hanya untuk sekedar menyiapkan diri sehingga kelak kita sanggup melangkah dan memberikan sumbangsih dalam berbagai bidang amal islami. Kita dapati pemuda muslim hari ini merasa cukup dengan hanya menjadi pendengar saja. Merasa cukup dengan menghadiri halaqah, pertemuan mukhtamar, membaca edaran, dan bulletin yang diterbitkan. Setelah itu cukup, atau menjadi seorang yang pasif tanpa sumbangsih.

Problem inilah yang membuat tak tergalinya berbagai potensi daro pemuda. Potensi yang semestinya tampak nyata di semua bidang amal islami: dakwah, hisbah, dan jihad. Yang dikehendaki Islam adalah sebagian besar waktumu, hampir seluruh hartamu, serta seluruh umurmu. Islam menghendaki keseluruhan dari dirimu. Tidaklah kita melihat para sahabat yang telah mengorbankan apapun untuk islam. Coba bandingkan sumbangsih para sahabat terdahulu dengan realitas kita hari ini. Kita banyak dapati orang-orang islam kaya hari ini, namun kita kesulitan untuk mendapati seseorang yang menanggung seluruh atau setengah hartanya untuk dakwah.


Sebuah syair yang amat dalam maknanya:

Di jalan Allah kami tegak berdiri
Mencitakan panji-panji menjulang tinggi
Bukan untuk golongan tertentu, semua amal kami
Bagi din ini, kami menjadi pejuang sejati
Sampai kemuliaan din ini kembali
Atau mengalir tetes-tetes darah kami


“ Sungguh akibat dari pengunduran diri adalah keburukan. Apalagi bagi orang yang telah mengerti kebenaran lalu berpaling darinya. Bagi yang telah merasakan manisnya kebenaran lalu tenggelam dalam kebatilan”.


Jumat, 19 Februari 2016

“Perempuan: subyek atau obyek?”


Oleh: Immawati Bela Fataya Azmi

Sejak dahulu tema perempuan telah banyak dibicarakan. Kesetaraan gender, emansipasi wanita hingga feminisme selalu menjadi topik-topik yang menarik untuk dibahas. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara gender, emansipasi dan feminisme, akan tetapi kesemuanya bertolak pada ketidakpuasan perempuan dalam memahami perannya.
Berangkat dari ketidakpuasan itu, bermunculan tokoh-tokoh perempuan yang maju dan menyuarakan hak-hak tentang kesetaraan gender. Di Indonesia sendiri kita mengenal tokoh pahlawan perempuan seperti R. A Kartini, Dewi Sartika dan lain sebagainya. Emansipasi untuk menyuarakan kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang penting dan untuk beberapa hal memang dibutuhkan, akan tetapi terkadang protes atas kesetaraan gender ini mengalami kebablasan, perempuan yang terlalu asyik untuk menunjukkan dirinya mulai lupa akan kewajiban dan fitrahnya yang utama. Dalam dunia Islam sendiri, kita “digemparkan” oleh pemikiran Fatima Mernissi tentang ayat-ayat missogininya, yaitu bahwa Islam mengekang hak-hak perempuan.
Terlepas dari perjalanan emansipasi perempuan serta pro-kontranya, salah satu hal penting yang dapat diambil kesimpulan, yaitu perempuan selalu menjadi subyek. Perempuan menjadi sosok yang memainkan peran untuk membela dirinya.
Namun, dewasa ini ketika kita dihadapkan pada kata “perempuan” yang kemudian tergambar dalam benak kita adalah sosok cantik, lembut, feminim atau mungkin juga “tukang dandan”. Jarang sekali muncul penggambaran perempuan adalah sosok tangguh, selalu berjalan di depan dan memimpin. Ketika melihat keadaan perempuan di zaman sekarang, peran perempuan tidak lagi sebagai subyek, akan tetapi telah berubah menjadi obyek semata.
Contoh paling nyata, yang seringkali terlepas dari pengamatan kita adalah produk-produk kapitalis yang secara tidak langsung mencekoki otak—terutama kaum hawa—untuk mengikuti pola pemikiran mereka. Mereka menciptakan standar-standar tertentu demi kepentingan ekonomi mereka yang kemudian oleh kita dibenarkan dan diikuti secara tidak sadar. Kecantikan misalnya, ketika dilontarkan pertanyaan “Perempuan cantik itu seperti apa?” jawaban yang muncul adalah sosok perempuan tinggi, berkulit putih serta memiliki rambut panjang dan lurus. Stereotip ini tidak lain muncul karena adanya iklan-iklan yang menggambarkan standar kecantikan seorang perempuan adalah berkulit putih, tinggi dan berambut panjang dan lurus. Dengan stereotip tersebut lantas kaum hawa kemudian akan disibukkan untuk memenuhi standar itu, sehingga tidak ada lagi waktu bagi mereka untuk kembali menjadi subyek dan memainkan peran, tetapi semata-mata menjadi obyek atas kuasa kaum kapitalis.
Parahnya lagi, untuk memenuhi standar kecantikan semu tersebut, perempuan dengan rela harus merasakan sakit terlebih dahulu. Diet atau bahkan operasi plastik rela dilakukan hanya untuk tampil cantik versi media. Pada titik ini, perempuan tidak hanya kehilangan perannya dan menjadi obyek, tetapi secara tidak sadar perempuan telah menjadi korban atas standar-standar yang dibuat demi kepentingan-kepentingan tertentu tersebut.

Melihat perempuan yang dengan sendirinya kehilangan perannya, bukan lagi saatnya kita membahas berlembar-lembar hal mengenai kartini dan teman-temannya, bukan lagi saatnya kita melongo bingung dengan pemikiran Fatima Mernissi, tetapi sudah saatnya bagi kita melihat ke dalam diri kita dan mulai bertanya, sampai kapan kita akan terus menjadi obyek? Kapankah kita bergegas dan kembali menjadi subyek atas segala sesuatu?  



Referensi:
Stefani, Ketty. 2009. Pdf: Kritik Ekofeminisme. Jakarta: UI
Goenawan, Felicia. 2007. Jurnal Ilmiah: Ekonomi Politik Iklan di Indonesia terhadap Konsep Kecantikan. Volume I, Nomor 1.
Aprilia, Dwi Ratna. 2005. Pdf: Iklan dan Budaya Popular: Pembentukan Identitas Ideologis Kecantikan Perempuan oleh Iklan. Volume I, Nomor 2.
www.dakwatuna.com “Hakikat Penghormatan terhadap Wanita” dilihat tanggal 2 Juli 2015 Pkl. 23.02 WIB

Jumat, 13 November 2015

Quo vadis, demokrasi?






oleh: IMMawan Muammar Rafsanjani


Quo vadis, domine?[1] Pertanyaan ini muncul dari sebuah cerita seorang yang bernama Santo Petrus yang bertemu dengan Yesus ketika melarikan diri dari Roma. Kemudian Santo Petrus ini bertanya kepada Yesus “Quo vadis, Domine?” dan kemudian dijawablah oleh Yesus “Romam vado iterum crufigi”[2]. Setelah berakhir percakapan tersebut maka kembalilah Santo Petrus ke Roma dan kemudian disalib hingga akhirnya dia menjadi martir disana.
***
Dewasa ini di Indonesia ada kelompok-kelompok Islam yang anti-demokrasi atau bisa kita sebut dengan kelompok Islam fundamentalisme. Dengan berorientasi pada negara-negara Arab, kelompok-kelompok Islam fundamentalisme ini menjadikan agama menjadi sebuah preferensi dalam negara. Preferensi disini dalam artian good life menurut rakyatnya. Padahal kalau kita lihat keadaan negara Indonesia disini multi cultur, multi etnic, multi religion dan menjadikan agama sebagai sebuah preferensi dalam negara hanya akan menjadi skandal bagi pluralisme yang ada di Indonesia. Demokrasi disinipun juga bisa menjadi keuntungan bagi muslim dengan suara muslim yang mendominasi Indonesia untuk mewujudkan negara Islam yang diinginkan tanpa mencederai pluralisme yang ada di Indonesia. Kalau kita melihat negara-negara yang ada di Arab, telah terjadi perdebatan yang panjang terkait demokrasi ini, yaitu sekitar 150 tahun lamanya. Dengan alasan demokrasi adalah sebuah sistem yang berasal dari Barat maka mereka mengklaim kafir bagi para penganut paham demokrasi. Adalah sebuah cacat logika bila alasan mereka seperti itu karena banyak teknologi-teknologi yang mereka gunakan juga berasal dari Barat. Padahal keengganan mereka menganut paham demokrasi adalah tidak lain untuk melanggengkan kekuasaan dan membutakan rakyat terhadap penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan. Dengan sistem demokrasi maka rakyat berhak mendapatkan transparansi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang juga akan kembali kepada rakyat itu sendiri. Maka, dengan cara apapun akan dilakukan demi mempertahankan sistem dinastik yang berbaju khilafah ini bahkan dengan menjadikan dalil-dalil agama sebagai doktrin pembenaran dalam setiap penyimpangan-penyimpangannya.
Kembali dalam konteks keindonesiaan, kalau melihat sejarah lahirnya Islam di Indonesia, Islam merupakan agama paling muda di Indonesia. Dimana sebelumnya Indonesia menganut paham animisme dan dinamisme yang kemudian dimasuki agama Hindu, Budha, Kristen dan Islam yang paling terakhir. Masuknya Islam ke Indonesia tidak dengan cara kekerasan atau dengan kata lain dengan cara damai. Dan agama-agama yang ada di Indonesia hidup dengan damai selama berabad-abad. Adapun secara umum kekerasaan antar agama dalam ekspansi kekuasaan disebabkan kepentingan-kepentingan politik atau ekonomi. Namun dalam penyebaran agama Islam khususnya, dilakukan dengan cara damai tanpa ada kekerasan ataupun paksaan. Hingga saat inipun konflik-konflik antar umat beragama pada umumnya bukanlah disebabkan perbedaan agama, akan tetapi kepentingan-kepentingan yang melatar belakangi terjadinya konflik namun dengan menjadikan agama sebagai payung pembenaran atas konflik tersebut.
Dasar negara yang di rumuskan Soekarno atau yang lebih dikenal dengan “Piagam Jakarta” sempat berlaku selama 57 hari. Sila pertama pada pancasila disebutkan “Ketuhanan, dengan mewajibkan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Dan “Piagam Jakarta” inilah yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, dengan penuh pertimbangan Muhammad Hatta memprotes hal ini sehingga merubah sila pertama pada Pancasila menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan otoritas yang dimiliknya dalam Panitia Sembilan, Muhammad Hatta kembali merumuskan dasar negara tersebut dan hasilnya di proklamasikan pada tanggal 18 Agustus 1945 yang dikenal dengan UUD 1945. Meskipun akibat perumusan dasar negara ini Muhammad Hatta sempat mendapat kritikan tajam dari kelompok-kelompok Islam tertentu. Sangatlah wajar apabila kita melihat pluralisme di Indonesia dan tentunya Indonesia yang diperjuangkannya selama bertahun-tahun dirusak begitu saja dengan dasar negara yang akan digunakan. Lagipula kalau kita melihat sosok Muhammad Hatta, beliau adalah seorang muslim yang taat. Sangat ganjil apabila sebagai seorang muslim yang taat, Muhammad Hatta membuat kebijakan yang merugikan agamanya sendiri.
Kemudian berbicara demokrasi dalam konteks keindonesiaan, sebagai negara muda yang baru berusia 10 tahun pada saat itu atau pada tahun 1955 tepatnya. Di bawah kabinet Burhanudin Harahap, Indonesia pernah melakukan demokrasi secara ideal. Sebuah pencapaian besar bagi negara yang baru berumur 10 tahun dan sebuah perisitwa besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Nusantara. Pemilu ini memiliki dua agenda yaitu memilih parlemen yang sudah berjalan dengan lancar. Dan yang kedua membentuk Majelis Konstituante yang bertugas menyusun UUD permanen untuk menggantikan UUDS yang awalnya juga berjalan dengan lancar. Namun, setelah 3 tahun melakukan sidang (1956-1959) agenda ini terhambat oleh masalah dasar negara yang akan menjadi acuan yaitu, Pancasila atau Islam. Pertarungan antara dua dasar negara ini berlangsung tanpa adanya kesepakatan dan mendorong lahirnya Dekrit 5 Juli 1959 yang mengembalikan UUDS menjadi UUD 1945 serta membubarkan Majelis Konstituante. Dengan digantikannya dasar negara menjadi UUD 1945, otomatis Pancasilalah yang memenangkan pertarungan antara kedua dasar negara ini. Pada masa Orde Baru, Pancasila sebagai dasar negara sempat dipaksakan kepada seluruh organisasi-organisasi yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah Muhammadiyah yang terakhir (1985) menyepakati Pancasila sebagai dasar negara ini. Sebagai ormas Islam, Muhammadiyah beranggapan tidak ada pertentangan dan tidak hal yang perlu diperdebatkan lagi antara Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara.
Sungguh ironis sekali kalau melihat keadaan Indonesia dewasa ini ketika bermunculan kelompok-kelompok Islam fundamentalisme yang anti-demokrasi. Mereka menginginkan khilafah Islamiyah di Indonesia. Minimal menjadikan syari’at sebagai hukum konstitusional di Indonesia. Dengan kata lain menjadikan agama sebagai sebuah preferensi. Padahal hal ini sangat bertentangan dengan visi sejarah Indonesia. Kelompok-kelompok Islam fundamentalisme ini mengutuk bahkan mengklaim kafir orang-orang yang menganut paham atau yang menggunakan sistem demokrasi ini karena dianggap sebagai produk Barat. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya padahal mereka sendiri juga menggunakan produk-produk Barat. Dan ironisnya salah satu jalan yang digunakan untuk mencapai khilafah Islamiyah di Indonesia tersebut juga dengan menggunakan sistem demokrasi ini. Meskipun sampai detik ini demokrasi yang dimimpikan belum sepenuhnya tercapai, bukan berarti kita menyalahkan dan bahkan mengutuk sistem ini. Secara teori, demokrasi merupakan sistem ideal untuk kondisi Indonesia saat ini. Hanya saja belum banyak pemimpin ideal yang bersikap pro-rakyat dan menjalankan sistem ini dengan semestinya. Meskipun begitu, negara-negara Arab yang menjadi orientasi sistem khilafah Islamiyah ini bukan berarti menjadi solusi untuk semua permasalahan yang kita hadapi saat ini. Sistem yang seperti ini justru akan mengesampingkan sikap egaliter dari penguasanya dan menumbuhkan sikap otoriter. Sehingga setiap kebobrokan dalam pemerintahan akan ditutupi sedimikian rupa dengan menjadikan dalil-dalil agama sebagai doktrin pembenaran atas penyelewengan kekuasaannya.
Dalam Islam sendiri tidak ditemukan konsep negara itu seperti apa. Apakah demokrasi atau teokrasi, presidensil atau parlementer, republik atau monarki. Dan mekanisme pengangkatan kepala negara pun tidak ditemukan dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah. Dengan kata lain sistem khilafah disini tidak memiliki pijakan sama sekali untuk berdiri dan menjadi acuan dalam sistem kenegaraan yang akan dianut oleh warga negaranya. Akan tetapi, dalam survei Gallup World Poll yang meliputi 1,3 Milliar muslim di dunia, mayoritas lebih menginginkan demokrasi. Demokrasi yang dimaksud bukanlah demokrasi liberal yang diadopsi mentah-mentah dari Barat tetapi demokrasi yang terdapat nilai-nilai Islam didalamnya. Misi Islam sebagai agama rahmatan lil alamin apabila diberlakukan khilafah Islam di Indonesia juga tidak berlaku lagi. Sebagai agama yang memiliki toleransi, tentunya Islam tidak akan memaksakan warga negara lain yang bukan beragama Islam untuk menggunakan syari’at Islam sebagai hukum konstitusional. Adapun pertanyaan yang sering saya dapati adalah “Bagaimana dengan hukum konstitusional yang berada diatas hukum Islam?”. Sebenarnya disini kita perlu memahami Islam secara komprehensif. Kalau kita melihat syari’at yang memerintahkan membunuh hukumannya pancung, mencuri hukumannya potong tangan atau yang lainnya lagi bukankah secara substantif hukum itu untuk mengadili. Dan hukum-hukum konstitusional yang ada di Indonesia secara substantif juga untuk mengadili. Kemudian masalah adil disini juga perlu persamaan persepsi terhadap adil itu sendiri terlebih dahulu seperti apa. Bagaimana ketika suatu hukum itu diberlakukan menurut A adil dan menurut B itu tidak adil ?
Sebelum terjadinya perang Uhud, Nabi beserta sahabat-sahabat Nabi melakukan musyawarah. Musyawarah disini untuk menentukan apakah pasukan Nabi akan bertahan di dalam kota atau di luar kota Madinah. Kemudian suara untuk berperang di luar kota Madinah pun dimenangkan oleh mayoritas muslim yang bermusyawarah. Nabi sendiri adalah seorang yang menginginkan agar bertahan di dalam kota. Dengan demikian suara Nabi agar bertahan di dalam kota dikalahkan oleh mayoritas yang berpendapat agar berperang di luar kota. Alhasil, pasukan Nabi kalah dalam perang tersebut. Dari sejarah perang Uhud tersebut dapat dipahami proses disana lebih utama daripada hasil. Karena proses adalah kewajiban kita dan hasil ada ditangan Allah. Meskipun Nabi di sana sebagai kepala negara tetap tunduk terhadap suara mayoritas rakyatnya walaupun berujung pada kekalahan dan sekalipun Nabi menderita atas kekalahan yang dialaminya tersebut secara fisik. Demokrasi berlaku disini.
Kembali pada pertanyaan Quo vadis, domine? pada bab pertama. Pertanyan tersebut dilontarkan untuk mencari orientasi. Kalau dimasukkan dalam konteks demokrasi, pertanyaan tersebut menjadi Quo vadis, demokrasi? Dengan kata lain apabila konteks cerita Santo Petrus ini dimasukkan ke dalam konteks demokrasi di Indonesia. Janganlah demokrasi melarikan diri dari segalam macam masalah yang menerpanya dengan mengganti demokrasi menjadi sistem lain yang mungkin akan lebih banyak menimbulkan masalah. Dengan masalah-masalah pada demokrasi ini teruslah dilakukan demokratisasi meskipun masih belum tercapai juga negara yang ideal untuk seluruh warga negara Indonesia. Cobalah untuk lebih menghargai “proses” dalam demokratisasi ini meskipun belum juga tercapai demokrasi yang ideal.

Referensi :
Hardiman, F. Budi. 2013. Dalam Moncong Oligarki. Yogyakarta: Kanisius.
Maarif, Ahmad Syafii. 2009. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Bandung: Mizan Pustaka.
Mogahed, Dalia dan Esposito, John L. 2008. Saatnya Muslim Bicara!. Bandung: Mizan Pustaka.
Abdillah, Masykuri. 2005. Islam Negara dan Civil Society. Jakarta: Paramadina.


[1] Mau kemana, Tuhan ?
[2] Saya kembali ke Roma untuk disalibkan lagi